SEJARAH BATIK BATANG

Seni kerajinan batik hingga kini tetap berkembang di daerah-daerah tertentu di tanah air. Hal tersebut menunjukkan bahwa jenis identitas budaya nasional yang satu ini mampu bertahan hidup dan bahkan sanggup menjadi kode kultural yang patut di perhitungkan dalam komunitas nasional meupun internasional, meskipun terus menerus diterpa arus globalisasi yang membawa serta liberalisme ekonomi dan persaingan bebas (Sondari, Yusmawati, 1999:1).

Daya tahan yang dimiliki seni kerajinan batik juga harus ditopang oleh peningkatan sumber daya manusia untuk terus berpacu dan beradaptasi dengan zaman, daya tahan itu sendiri membuktikan bahwa seni kerajinan batik masih terus dibutuhkan

Batik Batang ada sejak masyarakat pada umumnya mengenal budaya batik. Seperti beberapa kota di Jawa Tengah yang mempunyai ikon batik antara lain: Pekalongan, Surakarta Lasem, Rembang, dan Banyumas serta kota-kota lainnya termasuk Batang dan Tegal. Batik merupakan bagian yang terpisahkan sdengan budaya masyarakat pada umumnya (Jawa) karena batik adalah jenis motif sandang yang bisa dinikmati oleh semua lapisan, baik oleh ibu, bapak, remaja, dan anak-anak sekalipun tanpa dibatasi umur.

Masing-masing batik yang dihasilkan oleh wilayah atau kota-kota tersebut di atas memilik corak tersendiri dan berbeda dengan yang lainnya. Begitu halnya batik Batang yang sudah lama dikenal oleh masyarakat umum maupun masyarakat Batang khususnya. Kemudian timbul pertanyaan kapan batik Batang mulai ada? Pertanyaan ini tidak dijawab dengan pasti ataupun dengan angka tahun yang tepat. Namun demikian ditinjau dari segi motif dan histories, batik batang sudah ada sejak jaman Kerajaan Hindu-Budha di Jawa.

Salah satu petunjuk yang sangat menarik untuk ditindak lanjuti dalam penelitian daam waktu mendatang adalah munculnya nama batik Gringsing dan nama Kecamatan Gringsing di Kabupaten Batang, serta ditemukannya arca Sri Vasudara di dukuh Balai Kambang, desa Lebo Kecamatan Gringsing Kabupaten Batang. Arca Sri vasudara tersebuit (sekarang disimp[an di Museum Ronggowarsito Semarang) dalam temuan disebutka dengan a Sinjang Gringsing (memakai kain batik atau jarik gringsing: sinjang dalam bahasa jawa kromo artinya kain batik).

Disisi lain dari sudut sejarah Batang, ditemukan juga batik kuno di dukuh Cepit, desa Deles Kecamatan Bawang Kabupaten Batang. Disebut dengan batik kuno karena pada tahun 1978 di daerah tersebut diadakan penggalian Candi Cepit oleh team dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslitarkenas)Jakarta. Pada saat tersebut masyarakat sekitar melaporkan tentang kepemilikan bvatik tulis tradisional yang bermotif lung-lung bungam dan gambar tersebut identik dengan relief beberapa batu candi yang sedang dievakuasi.

Batang disebut sebagai produsen batik cukup beralasan, meskipun tidak setenar kota-kota lain yang sudah legendaris. Dikenalnya motif batik Kluwung dari Batang dapat menjadi bukti bahwa Batang juga sebagai daerah penghasil batik. Batik Kluwung adaah sebuah motif sederhana yang mengandung aspek ritual. Upacara ritual yang berkaitan dengan batik Kluwung adalah supaya pemakai selalu dalam perlindungan dari Tuhan Yang Maha Esa dalam hal keselamatan dan bebas dari malapetaka. Batik jenis yang satu ini tentu saja tidak sembarangan orang boleh memakainya, karena batik Kluwung hanya boleh dipaai oleh seorang anak yang kakak dan adiknya meninggal dunia. Seandainya sebuah keluarga mempuinyai  tiga orang anak dan yang sulung maupun bungsunya meninggal dunia tentu anak tersebut menjadi anak semata wayang yang masih hidup. Agar masa depan anak ini terjaga maka anak tersebut memakai motif Batik Kluwung dalam bentuk sinjang maupun sarung.

Dalam beberapa alasan diatas, maka Batang turut ambil bagian sebagai salah satu kota produsen batik, angka tahun yang tepat kapan mulai muncul batik Batang tidak dapat diketahui secara pasti, namun Batang tetap menjadi sebuah daerah atau kota penghasil batik yang tidak kalah pamornya dengan kota-kota lain di Jawa Tengah. Kerajinan batik Batang merupakan salah satu apresiasi budaya masyarakat Batang yang juga sedikit banyak dipengaruhi oleh batik tulis Pekalongan dan juga batik pesisiran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: