PERKEMBANGAN BATIK DI KABUPATEN BATANG

Stlaatblad nomor 632 tanggal 31 Desember 1935 menyebutkan Batang menjadi bagian dari Kabupaten Pekalongan, meskipun Batang sebelumnya adalah kabupaten tersendiri. Akibat dari penetapan ini maka penduduk Batang dan Pekalongan tidak merasa terpisah, sehingga banyak penduduk yang berasal dari Batang mencari kerja di Pekalongan,begitu sebaliknya orang Pekalongan yang beraktifitas di Batang. Orang-orang Batang yang bekerja di Pekalongan pada umumnya adalah buruh batik yang didominasi oleh kelompok wanita dan disebut buruh cantik. Para buruh tersebut sudah memiliki kemampuan dalam hal membatik terutama untuk batik tulis sehingga kehadiran buruh-buruh tersebut mendongkrak daerah Pekalongan memperoleh sebutan sebagai kota batik.

Undang-undang nomor 9 tahun 1965 memberi angin segar bagi penduduk Batang bahwa terhitung tanggal 8 april 1966 Batang dinyatakan sebagai Kabupaten sendiri dan terpisah dengan Pekalongan. Sejak saat itu rakyat Batang mulai menggliat menyadari jatidirinya menjadi mandiri karena di pisah dengan Pekalongan. Aktifitas buruh batikpun menjadi buruh cantik didaerah sendiri. Batik Batang mulai berkembang, begitu juga para pengusaha batik meyakinkan dirinya sebagai orang Batang, maka segala akses lebih menonjol Batang. Pengusaha batik tumbuh dimana-mana, juga dibarengi dengan sarana prasarana dibangu termasuk toko-toko yang berkait dengan usaha pembatikan. Untuk keperluan obat batik tidak tergantung lagi dengan kota lain.

Batang, Potensi pemasaran batik tradisional asal Kabupaten Batang, Jawa Tengah, di Indonesia masih menjanjikan sehingga memberi peluang pengusaha batik untuk meraih keuntungan. Potensi pasar masih menjanjikan karena adanya keberpihakan pemerintah pada penggalian, pelestarian budaya daerah, dan budaya nasional semakin menguat, salah satu indikasinya adanya kebijakan pemakaian seragam batik di lingkungan pendidikan dan instansi pemerintah. Kualitas batik produksi Kabupaten Batang tidak kalah dibandingkan dengan batik Solo, Pekalongan, Yogyakarta, dan Lasem. Sehingga mampu bersaing di pasar lokal, nasional, dan mancanegara.

Industri batik di Batang, katanya, hingga kini mencapai 56 unit usaha yang terdiri atas 41 unit usaha batik tulis dan 15 unit usaha batik cap. Industri batik di Batang mampu menyerap 140 tenaga kerja (naker). Proses pembuatan batik di Kabupaten Batang sebagian besar masih dilakukan dengan cara tradisional sehingga memiliki nilai khas, artistik, dan segmen tersendiri di pasar nasional maupun mancanegara. Industri batik Kabupaten Batang saat ini sudah terkenal di tingkat nasional dan mancanegara sehingga menjadi produk unggulan di Kabupaten Batang. Karena itu, pengusaha diminta selalu meningkatkan kualitas, mode, dan tren.

Para pengusaha batik di Kabupaten Batang yang mayoritas masih dikerjakan secara tradisional meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang mengucurkan bantuan agar usaha mereka bisa lebih berkembang. Kepedulian Pemerintah Kabupaten Batang terhadap industri batik Batang memang sudah ada. Namun baru sebatas mengunjungi sentra industri batik belaka. Memang mereka sering berkunjung ke industri batik, namun baru sebatas kunjungan saja. Bantuan riil berupa kucuran modal yang ditunggu-tunggu para perajin batik hingga kini belum pernah terwujud. Selain bantuan modal, mereka berharap Pemerintah Kabupaten Batang memberikan pelatihan peningkatan sumber daya manusia (SDM), pemasaran, dan promosi karena tanpa ada bantuan dari Pemkab Batang, pemasaran batik di Kabupaten Batang tak bisa meningkat pesat (http://promojateng-bikk.com).

Pengusaha batik atau biasa disebut juragan Batik mulai eksis dengan mengikat diri dalam organisasi, lahirnya Koperasi Pengusaha Batik setono (KPBS). Perkembangan selanjutnya pemerintah memberikan perlindungan kepada pengusaha kecil dengan beberapa jenis proteksi, dan yang paling menonjol adalah pemberian kemudahan mendapatkan bahan baku atau bahan dasar pembuatan batik berupa kain primis dan primissima. Era akhir tahun 60-an dan menuju awal tahun 70-an pangsa pasar batik cukup menjanjikan bagi pengrajin batik Batang mulai di kenal.

Pada saat batik pesisiran berkembang seperti batik Lasem dan Rembang saat Pekalongan, tidak ketinggalan pula batik Batang. Ada beberapa hal yang menyebabkan batik Batang  berkembang, salah satu diantaranya adalah kwalitas. Batik Batang secara umum sama dengan batik-batik yang lain, namun dari segi proses Batang melewati fase tersendiri, sehingga menjadi tampil beda. Sebelum proses menuliskan lilin diatas kain primis atau primissima maka kain tersebut direndam dulu dalam larutan minyak kacang dengan harapan agar lapisan kimia yang menempel dapat hilang, dan cairan kimia dapat meresap dengan sempurna.

Perkembangan batik Kabupaten Batang tidak lepas dari ketrampilan penduduk atau buruh batik serta kebijakan pemerintah dalam menyikapi industri rumahan atau pengrajin yang ada. Berawal dari industri rumahan maka industri batik yang tidak memerlukan padat kerja memberikan peluang kepada ibu-ibu sebagai kerja sampingan. Disebut sebagai industri rumahan karena para saudagar batik tidak membutuhkan tempat yang luas karena proses kerja dapat dapat dilaksanakan dirumah sendiri. Perkampungan yang berdekatan dengan pusat kota dan didukung oleh lingkungan yang memadai seperti tersedianya aliran sungai maka memungkinkan tumbuh dan berkembangnya para saudagar.

Penduduk kota yang tersebar di desa Kauman, Proyonanggan, kasepuhan dan Karangasem yang telah menempatkan diri di tengah-tengah kehidupan ekonomi marginal berusaha merekrut para ibu-ibu muda dan setengah baya untuk dipekerjakan sebagai pembatik. Tidak ketinggalan pula para laki-laki yang kebetulan sudah berstatus sebagai bapak dipekerjakan dibagian finising atau yang biasa disebut sebagai kuli keceh ( bagian proses batik yang berkaitan dengan pewarnaan menyeluruh ). Terjadilah hubunga antara saudagar dan buruh yang bersifat kemitraan, sebab tidak jarang para saudagar atau pengrajin lebih cocok mempekerjakan anggota keluarga sendiri dalam memperlancar arus dan proses produksi.

Perkembangan batik Batang selanjutnya masih menganut tata ekonomi tradisional, hal ini terbukti ketika etika pasar dibentuk maka yang terjalin adalah mata rantai keluarga yang terdiri dari produsen, pedagang, pengumpul dan konsumen secara umum masih ada ikatan persaudaraan. Mereka membentuk kebersamaan yang saling bergantung dengan mengikuti prinsip-prinsip etika dan agama. Hubungan antara produsen dan konsumen atau penjual dan pembeli berjalan tidak lebih sebagai hubungan antarapenjaja dan raja. Mereka saling membantu dan mendapatkan keuntungan dalam arti yang lebih menekankan pemanfaatan daripada yang bersifat pengumpulan kekayaan indifidu.

Perkembangan batik Batang selanjutnya juga diramaikan oleh pengrajin awal yang mulai tumbuh sebagai produsen dan juga bertindak sebagai penjaja ( pemasar). Mata rantai pemasaran biasanya berujung ditangan konsumen pengumpul atau kelompok pemasar perantara. Sebagaimana halnya seperti putaran jarum jam, pengaturan waktu bukan dijadikan sebagai pedoman untuk menciptakan nilai ekonomi melainkan lebih berdasar pada produktifitas yang meletakkan pelaku hemat dan rajin. Prinsip cukup beralasan karena upah yang diterima buruh batik tidak sebanding dengan waktu yang dikorbankan, tetapi tidak terjadi tawar-menawar.

Sejak timbulnya kelompok pemasaran penuh di Batang, maka batik berfungsi sebagai barang komoditi yang bersifat ekonomis. Kelompok pemasaran kemudian dibentuk berdasarkan prinsip etika tradisional yang diselimuti dengan semangat keagamaan yang mendalam, maka perkembangan selanjutnya saudagar batik banyak didominasi oleh kelompok muslim. Di Batang sendiri sebetulnya juga banyak saudagar batik dari etnis Cina namun karena butuh profesi didominasi lapisan bawah maka sistem perburuhan yang diterapkan tidak pernah menghambat perkembangan batik pada khususnya di Kabupaten Batang. Sentra pembatikan kemudian menyebar ke beberapa wilayah kecamatan yang berdekatan dengan kecamatan kota misalnya kecamatan Warungasem, Bandar dan Gringsing.

4 responses to this post.

  1. sekarang kenapa tinggal sedikit yang masih bertahan , sayang ya

    Balas

    • kami sedang mengupayakan untuk memotivasi orang untuk melestarikan batik Batang.
      apakah ada informasi yang bisa kami jadikan rujukan untuk memperkenalkan batik Batang sebagai bagian dari budaya bangsa Indonesia.

      Balas

  2. i.m support take and give because
    I “Batik Sakura” in recidence Griya Permai
    Permai IV/J.16 Pasekaran Batang contack person Istiqomah hp. 085 2266 17101 / 085 8763 999 45 / phone home 0285 7870 181 okey? than”s & lucky for U … friendship

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: